MAKALAH IMAN MENURUT ISLAM
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Islam sebagai agama bisa
dilihat dari berbagai dimensi; sebagai keyakinan, sebagai ajaran dan
sebagai aturan. Apa yang diyakini oleh seorang muslim, boleh jadi
sesuai dengan ajaran dan aturan Islam, boleh jadi tidak, karena
proses seseorang mencapai suatu keyakinan berbeda-beda, dan
kemampuannya untuk mengakses sumber ajaran juga berbeda-beda.
Diantara penganut satu agama bisa terjadi pertentangan hebat yang
disebabkan oleh adanya perbedaan keyakinan. Sebagai ajaran, agama
Islam merupakan ajaran kebenaran yang sempurna, yang datang dari
Tuhan Yang Maha Benar. Akan tetapi manusia yang pada dasarnya tidak
sempurna tidak akan sanggup menangkap kebenaran yang sempurna secara
sempurna.
Dalam
agama Islam terdapat pilar-pilar keimanan yang dikenal dengan rukun Iman,
terdiri dari enam pilar. Ke enam pilar tersebut adalah keyakinan Islam terhadap
hal-hal yang “ghoib” yang hanya dapat diyakini secara transedental, sebuah
kepercayaan terhadap hal-hal yang diluar daya nalar manusia. Rukun Iman (pilar
keyakinan) ini adalah terdiri dari: 1) iman kepada Allah, Malaikat-malaikat
Allah, Kitab-kitab Allah, Rasul-rasul Allah, hari Kiamat, Qada dan Qadar.
1.2 Rumusan
Masalah
Agar
pembahasan kita tidak lari dari sub judul, ada baiknya penyusun merumuskan
masalah-masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, antara lain :
ü Pengertian
aqidah dan keimanan
ü Landasan
hukum akidah dan keimanan
ü Macam-macam
iman
ü Hikmah
orang yang beriman
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 AQIDAH
2.1.1 Pengertian Aqidah
Sesungguhnya
aqidah merupakan masalah yang paling pokok dan paling mendasar bagi setiap
mukmin. Aqidah menjadi pintu awal masuknya seseorang ke dalam Islam dan aqidah
pula yang harus dia pertahankan hingga akhir hidupnya. Seorang mukmin dituntut
untuk membawa serta kalimah tauhid, kalimat ikhlas ‘laa ilaaha illallah’ hingga
menghembuskan napas yang terakhir agar dia dikategorikan ke dalam hamba-hamba
Allah yang husnul khatimah. Semua mukmin meyakini bahwa barang siapa yang
demikian adanya pasti meraih ridha Allah Swt, rahmat-Nya dan surga-Nya. Oleh
karena itu bahasan tentang aqidah menjadi masalah paling urgen dan krusial bagi
setiap mukmin.
Aqidah (العقيدة) dari segi bahasa (etimologis) berasal dari Bahasa Arab (عَقَدَ) yang bermakna 'ikatan' atau 'sangkutan' atau menyimpulkan
sesuatu. Aqidah juga di artikan al-Ibraam (pengesahan), al-ihkam(penguatan), at-tawatstsuq(menjadi
kokoh, kuat), asy-syaddu biquwwah(pengikatan dengan kuat),at-tamaasuk (pengokohan)
dan al-itsbaatu(penetapan). Di antaranya juga mempunyai arti al-yaqiin(keyakinan)
dan al-jazmu(penetapan).
Aqidah
artinya ketetapan yang tidak ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan.
Sedang pengertian aqidah dalam agama sendiri adalah berkaitan dengan keyakinan
bukan perbuatan. Seperti aqidah dengan adanya Allah dan diutusnya pada Rasul. Jadi kesimpulannya, apa yang telah
menjadi ketetapan hati seorang secara pasti adalah aqidah; baik itu benar
ataupun salah.
Secara
terminologis terdapat beberapa definisi aqidah yang dikemukakan oleh para ulama
Islam, antara lain:
· Menurut
Hasan Al-Banna
اَلْعَقَائِدُ
هِيَ اْلاُمُوْرُ الَّتِيْ يَجِبُ أَنْ يُصَدِّقَ بهَا قَلْبُكَ وَتَطْمَئِنَّ
اَلَيْهَا نَفْسُكَ وَ تَكُوْنَ يَقِيْناً عِنْدَكَ لاَ يُمَازِجُهُ رَيْبٌ وَلاَ
يُخَالِطُهُ شَكُّ
“Aqaid (bentuk jamak dari aqidah) adalah
beberapa perkara yang wajib di yakini kebenaranya oleh hati, mendatangkan
ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikit pun dengan
keragu-raguan”.
· Menurut
Abu bakar Jabir al-Jazairy
اَلْعَقِيْدَةُ
هِيَ مَجْمُوْعَةٌ مِنْ قَضَايَا اْلحَقَّ اْلبَدَهِيَّةِ اْلمُسَلَّمَةِ
بِاْلعَقْلِ وَالَّسمْعِ وَاْلفِطْرَةِ يَعْقِدُ عَلَيْهَا اْلاِنْسَاُن قَلْبَهَا
وَيُثْنِي عَلَيْهَا صَدْرَهُ جَازِمًا بِصِحَّتِهَا قَاطِعًا بِوُجُوْدِهَا وَثُبُوْتِهَا
لاَ يُرَي خِلاَفُهَا أَنَّهُ يُصِحُّ اَنْ يَكُوْنَ أَبَداً.
“Aqidah adalah sejumlah
kebenaran yang dapat diterima secara umum (aksioma) oleh manusia berdasarkan
akal, wahyu dan fitrah. Kebenaran itu dipatrikan di dalam hati serta diyakini kesahihan
dan keberadaanya secara pasti dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan
dengan kebenaran itu”.
Dari dua definisi di atas,
ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam rangka mendapatkan suatu
pemahaman mengenai aqidah yang lebih proporsional, yaitu:
a. Setiap
manusia memiliki fitrah mengakui kebenaran, indra untuk mencari kebenaran dan
wahyu untuk menjadi pedoman dalam menentukan mana yang baik dan mana yang
buruk. Dalam beraqidah hendaknya manusia menempatkan fungsi masing-masing instrumen
tersebut pada posisi sebenarnya.
b. Keyakinan
yang kokoh itu terbebas dari segala pencampur adukan dengan keragu-raguan
walaupun sedikit. Keyakinan hendaknya bulat dan penuh, tiada bercampur dengan
syak dan kesamaran. Oleh karena itu untuk sampai kepada keyakinan itu manusia
harus memiliki ilmu, yakni sikap menerima suatu kebenaran dengan sepenuh hati
setelah meyakini dalil-dalil kebenaran.
c. Aqidah
tidak harus mampu mendatangkan ketentraman jiwa kepada orang yang meyakininya.
Dengan demikian, hal ini mensyaratkan adanya keselarasan dan kesejahteraan
antara keyakinan yang bersifat lahiriyah dan keyakinan yang bersifat batiniyah.
Sehingga tidak didapatkan padanya suatu pertentangan antara sikap lahiriyah dan
batiniah.
d. Apabila
seseorang telah meyakini suatu kebenaran, konsekuensinya ia harus sanggup
membuang jauh-jauh segala hal yang bertentangan dengan kebenaran yang
diyakininya itu.
Dari keterangan diatas
penyusun dapat menyimpulkan bahwa aqidah adalah perkara yang wajib dibenarkan
oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan
yang teguh dan kokoh, yang tidka tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan.
2.1.2 Landasan
Hukum Aqidah
Sumber
aqidah Islam adalah al-Qur’an dan as-sunnah. Artinya apa saja yang disampaikan
oleh allah dalam al-qur’an dan rasulullah dalam sunnah-nya wajib di imani,
diyakini, dan diamalkan Ada beberapa dalil tentang aqidah,
yaitu :
· Dalil
Aqli
Dalil ini dapat diterima
apabila hasil keputusannya dipandang masuk akal atau logis dan sesuai dengan
perasaan, tentunya yang dapat menimbulkan adanya keyakinan dan dapat memastikan
adanya iman yang dimaksudkan. Dengan menggunakan akal manusia merenungkan
dirinya sendiri dan alam semesta, yang dengannya ia dapat melihat bahwa dibalik
semua itu terdapat adanya Tuhan pencipta yang satu.
· Dalil
Naqli
Yaitu dalil yang bersumber
dari al-Qur’an. Dan dalam hal ini, landasan hukum aqidah yang bersumber dari
al-Qur’an antara lain :
Surah al-Ikhlas, ayat 1-4
قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ. ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ.
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ. وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ۞
Katakanlah: "Dia-lah
Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala
sesuatu, Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang
pun yang setara dengan Dia".
Surah
an-Nahl, ayat 51 :
وَقَالَ
ٱللَّهُ لَا تَتَّخِذُوٓا۟ إِلَٰهَيْنِ ٱثْنَيْنِ إِنَّمَا هُوَ
إِلَٰهٌۭ وَٰحِدٌۭ فَإِيَّٰىَ فَٱرْهَبُونِ۞
Allah berfirman:
"Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha
Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut".
Surah
al-Baqarah, ayat 163 :
وَإِلَٰهُكُمْ
إِلَٰهٌۭ وَٰحِدٌۭ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحْمَٰنُ ٱلرَّحِيمُ۞
Dan Tuhanmu adalah Tuhan
Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang.
Dan
hadis yang diriwayatkan Imam Bukhori dan Muslim,bahwa Rasulullah bersabda :
فإن
الله حرم على النار من قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله
“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka
bagi orang orang yang mengucapkan لا
إله إلا الله dengan ikhlas dan hanya
mengharapkan ( pahala melihat ) wajah Allah”.
2.1.3 Tingkatan Aqidah
Tingkatan
aqidah seseorang berbeda-beda antara satu dengan yang lainya tergantung dari
dalil, pemahaman, penghayatan dan juga aktualisasinya. Tingkatan aqidah ini
paling tidak ada empat, yaitu Taqlid, Ilmul yaqin, ‘Ainul yaqin, dan Haqqul
yaqin.
· Tingkat
Taqlid
وَلَا
تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ
كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا ۞
Dan janganlah kamu
mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan
jawabnya”.
· Tingkat
Ilmul Yaqin
Tingkat ilmul yaqin adalah
suatu keyakinan yang diperoleh berdasarkan ilmu yang bersifat teoritis.
Sebagaimana yang disebutkan dalam al-qur’an :
أَلْهَاكُمُ
التَّكَاثُرُ ۞ .حَتَّى زُرْتُمُ
الْمَقَابِرَ۞ كَلَّا
سَوْفَ تَعْلَمُونَ ۞ .ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ
تَعْلَمُونَ ۞ كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ
عِلْمَ الْيَقِينِ۞
“Bermegah-megahan telah
melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu
akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan
mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang
yakin.”
· Tingkat
‘Ainul Yaqin
Tingkat ‘ainul yaqin adalah
suatu keyakinan yang diperoleh melalui pengamatan mata kepala secara langsung
tanpa perantara. Hal ini disebutkan di dalam surah
at-Takatsur ayat 6-7, yaitu :
لَتَرَوُنَّ
الْجَحِيمَ ۞ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ
الْيَقِينِ۞
“Niscaya kamu benar-benar
akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya
dengan `ainul yaqin”.
· Tingkat
Haqqul Yaqin
Tingkat haqqul yaqin adalah
suatu keyakinan yang diperoleh melalui pengamatan dan penghayatan pengamalan
(empiris). Sebagaimana disebutkan di dalam
al-Qur’an :
فَأَمَّا
إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ۞ فَرَوْحٌ
وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ ۞ وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ
أَصْحَابِ الْيَمِينِ ۞ فَسَلَامٌ لَكَ مِنْ
أَصْحَابِ الْيَمِينِ ۞ وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ
الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ ۞ فَنُزُلٌ مِنْ حَمِيمٍ ۞ وَتَصْلِيَةُ
جَحِيمٍ ۞ إِنَّ هَذَا لَهُوَ حَقُّ
الْيَقِينِ۞فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ۞
“Adapun jika dia (orang
yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh
ketenteraman dan rezki serta surga keni`matan. Dan adapun jika dia termasuk
golongan kanan, maka keselamatan bagimu karena kamu dari golongan kanan. Dan
adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat, maka dia
mendapat hidangan air yang mendidih, dan dibakar di dalam neraka. Sesungguhnya
(yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar. Maka bertasbihlah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar”.
2.2 KEIMANAN
2.2.1 Pengertian
Keimanan (iman)
Dalam islam Iman adalah
aqidah atau kepercayaan. Sumbernya yang asasi ialah al-Qur’an. Iman secara bahasa berarti
at-tashdiiq (pembenaran). Pengertian dasar dari istilah iman ialah memberi
ketenangan hati atau pembenaran hati. Jadi makna iman secara umum
mengandung pengertian pembenaran hati yang dapat menggerakkan anggota badan
memenuhi segala konsekuensi dari apa yang dibenarkan oleh hati. Keimanan dipandang sempurna, apabila
ada pengakuan dengan lidah, pembenaran dengan hati secara yakin dan tidak
bercampur keraguan, dan dilaksanakan dalam perbuatan sehari-hari. Iman sering juga dikenal dengan
istilah aqidah, yang berarti ikatan, yaitu ikatan hati.
Bahwa seseorang yang
beriman mengikatkan hati dan perasaannya dengan sesuatu kepercayaan yang tidak
lagi ditukarnya dengan kepercayaan lain. Aqidah tersebut akan menjadi pegangan
dan pedoman hidup, mendarah daging dalam diri yang tidak dapat dipisahkan lagi
dari diri seorang mukmin. Bahkan seorang mukmin sanggup berkorban segalanya,
harta dan bahkan jiwa demi mempertahankan aqidahnya.
Ada beberapa defenisi iman menurut para ahli, diantaranya
:
· Al-Imam
Isma’il bin Muhammad At-Taimiy
الإيمان
في الشرع عبارة عن جميع الطاعات الباطنة والظاهرة
“Iman dalam pengertian
syar’iy adalah satu perkataan yang mencakup makna semua ketaatan lahir dan
batin”.
· Al-Imam
An-Nawawiy
الإيمان
في لسان الشرع هو التصديق بالقلب والعمل بالأركان
“Iman dalam istilah syar’iy
adalah pembenaran dengan hati dan perbuatan dengan anggota tubuh”.
· Al-Imaam
Ibnul-Qayyim
حقيقة
الإيمان مركبة من قول وعمل. والقول قسمان : قول القلب، وهو الاعتقاد، وقول اللسان،
وهو التكلّم بكلمة الإسلام. والعمل قسمان : عمل القلب، وهو نيته وإخلاصه، وعمل
الجوارح .
فإذا زالت هذه الأربعة، زال الإيمان بكماله، وإذا زال تصديق القلب، لم تنفع بقية
الأجزاء.
“Hakekat iman terdiri dari
perkataan dan perbuatan. Perkataan ada dua : perkataan hati, yaitu i’tiqaad;
dan perkataan lisan, yaitu perkataan tentang kalimat Islam (mengikrarkan syahadat).
Perbuatan juga ada dua : perbuatan hati, yaitu niat dan keikhlasannya; dan
perbuatan anggota badan. Apabila hilang keempat hal tersebut, akan hilang iman
dengan kesempurnaannya. Dan apabila hilang pembenaran (tashdiiq) dalam hati,
tidak akan bermanfaat tiga hal yang lainnya”.
Rasulullah bersabda :
حَدَّثَنَا
مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا أَبُو
حَيَّانَ التَّيْمِيُّ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ
فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ: مَا الإِيمَانُ قَالَ الإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ
بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ
بِالْبَعْث.
Musaddad telah menceritakan
kepada kami, ia berkata bahwa Isma’il ibn Ibrahim telah menceritakan kepada
kami, Abu Hayyan al-Taimiy dari Abi Zur’ah telah menyampaikan kepada kami dari
Abu Hurairah r.a berkata: Pada suatu hari ketika Nabi saw. sedang duduk bersama
sahabat, tiba-tiba datang seorang laki-laki dan bertanya, “apakah iman itu?”.
Jawab Nabi saw.: “iman adalah percaya Allah swt., para malaikat-Nya, dan
pertemuannya dengan Allah, para Rasul-Nya dan percaya pada hari berbangkit dari
kubur.
Berdasarkan
kedua redaksi hadis tersebut selanjutnya oleh sebagian besar ulama dirumuskan
bahwa pengertian iman secara keseluruhan meliputi :
· Keyakinan
tentang adanya Allah swt.
· Keyakinan
terhadap malaikat-malaikat Allah swt.
· Keyakinan
tentang kebenaran kitab-kitab yang diturunkan-Nya.
· Keyakinan
tentang kebenaran rasul-rasul utusan-Nya.
· Keyakinan
tentang kebenaran adanya hari kebangkitan dari alam kubur.
2.2.2 Landasan
Hukum Keimanan (iman)
Allah
berfirman :
ءَامَنَ
ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ
ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ
بَيْنَ أَحَدٍۢ مِّن رُّسُلِهِۦ ۚ وَقَالُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ
رَبَّنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِير ُ
“Rasul telah beriman kepada
Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang
yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak
membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul
rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat".
(Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat
kembali".
Surah
al-Mu’minun, ayat 1-6 :
قَدْ
أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ ۞ ٱلَّذِينَ هُمْ فِى
صَلَاتِهِمْ خَٰشِعُونَ ۞ وَٱلَّذِينَ هُمْ عَنِ
ٱللَّغْوِ مُعْرِضُونَ ۞ وَٱلَّذِينَ هُمْ
لِلزَّكَوٰةِ فَٰعِلُونَ۞ وَٱلَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَٰفِظُونَ ۞ إِلَّا
عَلَىٰٓ أَزْوَٰجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ
مَلُومِينَ۞
“Sesungguhnya beruntunglah
orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya,
dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada
berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga
kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki;
maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela”.
Dan dalam sabda Rasulullah Saw, yang berbunyi
:
عَنْ
عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ
رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ
عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ
يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ
إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ
وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ
اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ
تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ
وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ،
فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ
اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ
وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ
صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ
كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.(اخرجه البخاري)
“Dari Abu Khurairah dia
berkata: Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam
suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang
sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas
perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga
kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada
lututnya (Rasulullah Saw) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku
tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Saw : “ Islam adalah engkau
bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa
Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat,
puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar
“. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan.
Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau
bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada
takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda
benar“. Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan
“. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah
seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat
engkau” . (dikeluarkan oleh Imam bukhari).
2.2.3 Macam-macam
Iman
Macam-macam
Iman (rukun iman) dapat diartikan sebagai pilar keyakinan, yakni pilar-pilar
keyakinan seorang muslim, dalam hal ini terdapat enam pilar keyakinan atau
rukun iman dalam ajaran Islam, yaitu:
· Iman
kepada Allah
· Iman
kepada Malaikat-malaikat Allah
· Iman
kepada Kitab-kitab Allah
· Iman
kepada Rasul-rasul Allah
· Iman
kepada hari Kiamat
· Iman
kepada Qada dan Qadar.
a. Iman
Kepada Allah
Iman adalah kepercayaan.
Dalam hal ini intinya adalah percaya dan mengakui bahwa Allah Maha Esa, tiada
tuhan selain-Nya. Dalam hal ini, Ibn Hajar menjelaskan :
الايمان باالله هو التصديق بوجوده وانه متصف بصفات الكمال
منزه عن صفات النقص.
“Iman kepada Allah adalah
membenarkan tentang wujud Allah, Dia bersifat kesempurnaan, Maha Suci Allah
memiliki sifat-sifat kekurangan”.
Berdasarkan
uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa iman kepada Allah, ialah membenarkan
dengan yakin sepenuhnya tanpa ada sedikitpun keraguan akan adanya Allah dan
ke-Esaan-Nya.
Iman kepada Allah adalah
keyakinan yang kuat bahwa Allah adalah Rabb dan Raja segala sesuatu, Dialah
Yang Mencipta, Yang Memberi Rizki, Yang Menghidupkan, dan Yang Mematikan, hanya
Dia yang berhak diibadahi. Kepasrahan, kerendahan diri, ketundukan, dan segala
jenis ibadah tidak boleh diberikan kepada selain-Nya, Dia memiliki sifat-sifat
kesempurnaan, keagungan, dan kemuliaan, serta Dia bersih dari segala cacat dan
kekurangan.
Bagi seorang Muslim wajib
mempunyai keyakinan sebagai berikut :
· Allah
itu Esa pada Zat
· Allah
itu Esa pada Sifat
· Allah
itu Esa pada Wujud
· Allah
itu Esa pada menerima ibadah hamba-Nya
· Allah
itu Esa dalam menyelesaikan segala hajat dan keperluan makhluk.
Allah juga bersifat mutlak,
berbeda dengan eksistensi manusia bersifat berubah-ubah. Aliran Sunni
menambahkan beberapa Sifat-sifat Allah yang merupakan suatu kemestian,atau
kewajiban untuk diketahui. Misal sifat yang wajib, mustahil dan harus bagi
Allah.
b. Iman
kepada Malaikat-malaikat
termasuk
bagian dari rukun iman tersebut adalah mempercayai adanya para malaikat.
Seorang mukmin wajib mengakui dan mengimani adanya malaikat. Mereka adalah
makhluk Allah yang senantiasa taat kepada perintah-Nya dan tidak pernah
melakukan maksiat kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya yang berbunyi :
لَّا
يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ۞
“Malaikat-malaikat tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan”
Ibnu Hajar pernah berkata :
الايمان
بالملائكة هو التصديق بوجودهم وانهم كما وصفهم الله تعالى (عبادالمكرمون) وقدم
الملائكة على الكتب والرسل نظرا للترتيب الواقع, لانه سبحانه وتعالى ارسل الملك
بالكتاب الى الرسول وليس فيه متمسك لمن فضل الملك على الرسول.
”Iman terhadap malaikat
adalah membenarkan tentang wujud mereka, mereka memiliki sifat sebagaimana yang
dijelaskan Allah, yaitu hamba-hamba yang dimuliakan. Didahulukan para malaikat
terhadap kitab-kitab dan para rasul (didalam urutan iman) adalah berdasarkan
urutan peristiwa. Sebab, Allah Swt mengutus para malaikat untuk membawa kitab
kepada para rasul. Urutan tersebut bukanlah berdasarkan pendapat orang yang mengatakan
bahwa malaikat lebih mulia dari rasulullah.
Adapun
yang diperintahkan kepada mereka, mereka laksanakan. Mereka bertasbih siang dan
malam tanpa berhenti. Mereka melaksanakan tugas masing-masing sesuai dengan
yang diperintahkan oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat
mutawatir dari nash-nash Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Jadi, setiap gerakan di
langit dan di bumi, berasal dari para malaikat yang ditugasi di sana, sebagai
pelaksanaan perintah Allah Azza wa Jalla. Diantara nya adalah bertugas
menyampaikan wahyu kepada para Rasul, mengatur cuaca, mencabut nyawa, menulis
amal perbuatan makhluk, menjaga surga, neraka, menyoal mayyit dalam qubur,
memikul arasy, meniupkan ruh kedalam rahim, dan lain sebainya.
c. Iman
kepada Kitab-kitab
Maksudnya
adalah, meyakini dengan sebenarnya bahwa Allah memiliki kitab-kitab yang
diturunkan-Nya kepada para nabi dan rasul-Nya, yang benar-benar merupakan Kalam
(firman, ucapan)-Nya. Ia adalah cahaya dan petunjuk. Apa yang dikandungnya
adalah benar. Tidak ada yang mengetahui jumlahnya selain Allah. Ibnu hajar menegaskan :
الايمان
بكتب الله التصديق بانها كلام الله وان ما تضمنته حق.
“Iman terhadap kitab-kitab
Allah adalah membenarkan keberadaannya sebagai kalam Allah dan segala isinya
adalah kebenaran”.
Sungguh,
Muhammad saw, adalah penutup para Nabi, risalahnya sebagai pamungkas
risalah-risalah sebelumnya dan al-Qur’an yang dibawanya merupakan penyempurna
dari kitab-kitab Allah yang lainnya. Tidak ada wahyu yang turun
sesudahnya, kedatangan al-Qur’an adalah kitab pembenar terhadap kitab-kitab
sebelumnya, memelihara kandungan kitab-kitab tersebut. Allah berfirman dalam
surah at-Taubah yat 111, yang berbunyi :
إِنَّ
ٱللَّهَ ٱشْتَرَىٰ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ
ٱلْجَنَّةَ يُقَٰتِلُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَيَقْتُلُونَ
وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّۭا فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ
وَٱلْإِنجِيلِ وَٱلْقُرْءَانِ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِۦ مِنَ
ٱللَّهِ فَٱسْتَبْشِرُوا۟ بِبَيْعِكُمُ ٱلَّذِى بَايَعْتُم
بِهِۦ وَذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ.
“Sesungguhnya Allah telah
membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga
untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau
terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat,
Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain)
daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan
itu, dan itulah kemenangan yang besar”.
Dalam ayat lain, Allah menjelaskan :
إِنَّ
هَٰذَا لَفِى ٱلصُّحُفِ ٱلْأُولَىٰ ۞ صُحُفِ إِبْرَٰهِيمَ
وَمُوسَىٰ ۞
“Sesungguhnya ini
benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim
dan Musa”.
d. Iman kepada rasul-rasul
Rukun
iman yang ke-empat adalah percaya kepada para Rasul Allah. Iman kepada para
rasul adalah membenarkan dengan sesungguhnya bahwa Allah mengutus kepada setiap
ummah seorang Rasul untuk membimbing ummah tersebut. Firman Allah dalam surah Ali Imran,
ayat 84 yang berbunyi :
قُلْ
ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ عَلَيْنَا وَمَآ أُنزِلَ عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ
وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ وَيَعْقُوبَ وَٱلْأَسْبَاطِ وَمَآ أُوتِىَ مُوسَىٰ
وَعِيسَىٰ وَٱلنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍۢ مِّنْهُمْ
وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَ ۞
Katakanlah: "Kami
beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang
diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak-anaknya, dan apa yang
diberikan kepada Musa, 'Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak
membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan
diri."
Tugas
utama seorang rasul adalah mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah dan
menjauhi kesyirikan serta menjalankan syariat yang dibawahnya. Para Rasul
dibekali oleh Allah dengan mukjizat untuk mengukuhkan kerasulannya. Mukjizat
adalah sesuatu yang menyelisihi kebiasaan yang terjadi (peristiwa yang luar
biasa).
Di dalam kitab suci
Al-Qur'an terdapat nama dua puluh lima Rasul Allah, yang satu persatunya
disebutkan dengan nyata, yaitu : Adam, Idris, Nuh, Hud, Shalih, Ibrahim, Luth,
Ismail, Ishak, Yaakub, Yusuf, Ayub, Zulkifli, Syu'aib, Musa, Harun, Daud,
Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Yunus, Zakharia, Yahya, Isa, dan Rasulullah Muhammad Saw.
Wujud keimanan kepada
Rasulullah adalah melaksanakan segala Sunnahnya dan menjauhi segala bid’ah
(sesuatu yang dibut-buat tanpa dalil) atas ajarannya. Sunnah adalah setiap
perkataan, perbuatan, dan pengakuan Nabi saw. Kedudukan Sunnah terhadap
al-Qur’an adalah sebagai penjelas, perinci, dan penetap syari’at yang tidak
dikemukakan secara jelas dalam al-Qur’an.
e. Iman kepada Hari Qiyamah
Rukun
iman yang ke-lima adalah beriman kepada Hari Qiamat, yaitu menyakini sepenuh
hati tanpa ada keraguan sedikitpun bahwa hari qiyamat akan terjadi. Minculnya
hari qiyamat merupakan waktu berakhirnya dunia ini, dan akan dimulainya dunia
baru yaitu akhirat. Iman kepada hari qiyamat akan
menimbulkan keyakinan yang kuat tentang adanya negeri akhirat. Di
negeri itu Allah akan membalas kebaikan orang-orang yang berbuat baik dan
kejahatan orang-orang yang berbuat jahat. Allah mengampuni dosa apapun selain
syirik, jika Dia menghendaki. Pengertian alba’ts (kebangkitan) menurut syar’i
adalah dipulihkannya badan dan dimasukkannya kembali nyawa ke dalamnya,
sehingga manusia keluar dari kubur seperti belalang-belalang yang bertebaran
dalam keadaan hidup dan bersegera mendatangi penyeru. Kita memohon ampunan dan
kesejahteraan kepada Allah, baik di dunia maupun di akhirat.
Di
dalam al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang membahas tentang gambaran hari
qiyamat, antara lain :
إِذَا
وَقَعَتِ ٱلْوَاقِعَةُ ۞ لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا
كَاذِبَةٌ ۞ خَافِضَةٌۭ رَّافِعَةٌ ۞ إِذَا
رُجَّتِ ٱلْأَرْضُ رَجًّۭا ۞ وَبُسَّتِ ٱلْجِبَالُ
بَسًّۭا ۞ فَكَانَتْ هَبَآءًۭ
مُّنۢبَثًّۭا ۞
“Apabila terjadi hari
kiamat, terjadinya kiamat itu tidak dapat didustakan (disangkal), (Kejadian
itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila
bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan
sehancur-hancurnya, maka jadilah dia debu yang beterbangan”.
Pada
hakikatnya, tidak ada yang mengetahui secara persis kapan terjadinya Hari
Qiyamat kecuali Allah Swt. Rasulullah hanya memberikan gambaran
tentang tanda-tanda akan terjadinya hari qiyamat. Seperti keluarnya Yajuz dan
Majuz, keluarnya Dajjal, lahirnya Imam Mahdi, dan Turunnya Nai Isa as.Wujud iman kepada Hari Qiyamat dapat
dilihat dari kesiapannya untuk membekali diri menyongsong hari tersebut.
Sewaktu ia benar-benar beriman dengan hari yang dahsat itu maka ia akan
melaksanakan perintah Allah swt, dan Rasul saw, serta menjauhi segala
larangannya.
f. Iman kepada Qadha dan
Qadar
Seorang
Muslim harus meyakini qadha dan qadar yang datang-Nya dari Allah, baik dan
buruk datangnya dari Allah. Iman kepada qadha dan qadar adalah
meyakini secara sungguh-sungguh bahwa segala kebaikan dan keburukan itu terjadi
karena takdir Allah. Allah ta’ala telah mengetahui kadar dan waktu terjadinya
segala sesuatu sejak zaman azali, sebelum menciptakan dan mengadakannya dengan
kekuasaan dan kehendak-Nya, sesuai dengan apa yang telah diketahui-Nya itu.
Allah telah menulisnya pula di dalam Lauh Mahfuzh sebelum menciptakannya. Allah
berfirman dalam surah al-Qamar, ayat 49 yang berbunyi :
إِنَّا
كُلَّ شَىْءٍ خَلَقْنَٰهُ بِقَدَرٍۢ۞
”Sesungguhnya Kami
menciptakan segala sesuatu menurut qadar (ukuran).”
Beriman
kepada qadha dan qadar Allah akan menjadikan seseorang sadar bahwa ia tidak
memiliki kemampuan apa pun dan tidak mengetahui sedikitpun tentang jalan
kehidupannya. Oleh sebab itu, ia harus berikhtiar untuk terus menjalani hidup
ini sesuai dengan perintah Allah.
2.2.4 Hikmah orang yang
beriman
Ada beberapa hikmah,
pengaruh dan dampak keimanan seseorang muslim terhadap perilakunya sehari-hari.
· Pengaruh
Iman Kepada Allah
Iman kepada Allah serta
iman kepada sifat-sifatnya akan mempengaruhi perilaku seorang muslim, sebab
keyakinan yang ada dalam dirinya akan dibuktikan pada dampak perilakunya. Jika
seseorang telah beriman bahwa Allah itu ada, Maha Melihat dan Maha Mendengar,
maka dalam perilakunya akan senantiasa berhati-hati dan waspada, ia tidak akan
merasa sendirian, kendati tidak ada seorang manusiapun di sekitarnya, sebab ia
yakin bahwa Allah itu ada. Karena itu selama iman itu ada dalam dirinya, tidak
mungkin ia dapat berbuat yang tidak sesuai dengan perintah Allah.
· Pengaruh
Iman Kepada Malaikat
Keyakinan terhadap adanya
malaikat, bukan hanya sebatas mengetahui nama dan tugas-tugasnya, akan
berpengaruh terhadap perilaku manusia. Jika kita yakin ada malaikat yang
mencatat semua amal baik dan buruk kita, maka seorang muslim akan senantiasa
berhati-hati dalam setiap perbuatannya karena ia akan menyadari bahwa semua
perilakunya tersebut akan dicatat oleh malaikat.
· Pengaruh
Iman Kepada Kitab
Iman kepada kitab Allah
bagi manusia dapat memberikan keyakinan yang kuat akan kebenaran jalan yang
ditempuhnya, karena jalan yang harus ditempuh manusia telah diberitahukan Allah
dalam kitab suci. Manusia tidak memiliki kemampuan untuk melihat masa depan
yang akan ditempuhnya setelah kehidupan untuk melihat masa depan yang akan
ditempuhnya setelah hidup berakhir, maka dengan pemberitahuan kitab suci
manusia dapat mengatur hidupnya menyesuaikan dengan rencana Allah, sehingga
manusia mempunyai masa depan yang jelas.
· Pengaruh
Iman Kepada Rasul
Iman kepada rasul merupakan
kebutuhan manusia, karena dengan adanya rasul maka manusia dapat melihat
contoh-contoh perilaku dan teladan terbaik yang sesuai dengan apa yang
diharapkan Allah. Dengan perilaku yang dicontohkan Rasulullah, maka manusia
akan mempunyai pegangan yang jelas dan lengkap mengenai berbagai tuntutan
kehidupan baik yang berhubungan dengan Allah, hubungan antar manusia maupun
lainnya.
· Pengaruh
Iman Kepada Hari Akhir
Beriman kepada hari akhir
atau hari kiamat adalah keyakinan akan datangnya hari akhir sebagai ujung
perjalanan umat manusia. Keimanan tersebut akan melahirkan sikap
optimis, yakni bahwa tidak akan ada yang sia-sia dalam kehidupan manusia,
karena semuanya akan dipertanggungjawabkan amal ibadah dan balasannya.
· Pengaruh
Iman Kepada Takdir
Beriman kepada takdir akan
melahirkan sikap optimis, tidak mudah kecewa dan putus asa, sebab yang
menimpanya ia yakini sebagai ketentuan yang telah Allah takdirkan kepadanya dan
Allah akan memberikan yang terbaik kepada seorang muslim, sesuai dengan
sifatnya yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Oleh karena itu, jika kita
tertimpa musibah maka ia akan bersabar, sebab buruk menurut kita belum tentu
buruk menurut Allah, sebaliknya baik menurut kita belum tentu baik menurut
Allah. Karena itu dalam kaitan dengan takdir ini segogjayanya lahir sikap sabar
dan tawakal yang dibuktikan dengan terus menerus berusaha sesuai dengan
kemampuan untuk mencari takdir yang terbaik dari Allah.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Dari
penjelasan diatas penyusun dapat simpulkan sebagai berikut :
ü aqidah
adalah perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram
karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidka
tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan.
ü Akidah
mempunyai beberapa tingkatan, yaitu ; taklid, ilmu yakin, ‘ainul yakin, dan
haqqul yakin.
ü Pengertian
dasar dari istilah iman ialah memberi ketenangan hati
atau pembenaran hati. Keimanan dipandang sempurna, apabila ada
pengakuan dengan lidah, pembenaran dengan hati secara yakin dan tidak bercampur
keraguan, dan dilaksanakan dalam perbuatan sehari-hari.
ü Keimanan
terbagi menjadi enam (6), yaitu; iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab,
Rasul-rasul, hari Qiyamat, dan Qadha dan Qadar.
3.2 Kritik &
Saran
Keimanan
seseorang akan berpengaruh terhadap perilakunya sehari-hari, oleha karena itu
penulis menyarankan agar kita senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kita
kepada Allah SWT agar hidup kita senantiasa berhasil menurut pandangan Allah
SWT. Juga keyakinan kita terhadap malaikat, kitab, rasul, hari akhir dan takdir
senantiasa harus ditingkat demi meningkatkan amal ibadah kita.
Dari makalah kami yang
singkat ini mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua umumnya kami
pribadi. Yang baik datangnya dari Allah, dan yang buruk datangnya dari kami.
Dan kami sedar bahwa makalah kami ini jauh dari kata sempurna, masih banyak
kesalahan dari berbagai sisi, jadi kami harafkan saran dan kritik nya yang
bersifat membangun, untuk perbaikan makalah-makalah selanjutnya.
DAFTAR
PUSTAKA
1. Al-Qur’anul
Karim
2. Ohan
Sudjana, Fenomena Aqidah Islamiyah Berdasarkan Quran dan Sunnah,
Jakarta : Media Dakwah , 1994.
3. Nasruddin
Razak, Dienul Islam, Penafsiran kembali islam
sebagai suatu Aqidah & way of line, Bandung : PT AlMa’arif,
1989.
4. Fazhur
Ranchman, Islam, Jakarta : Bumi Aksara, cetakan ke-2, 1992.
5. Hadis
Purba, Tauhid Ilmu, Syahadat, dan amal, Medan : IAIN Press,
2011.
6. Rachmat
Syafe’I, al-Hadis aqidah, akhlak, social,dan hukum, Bandung :
Pustaka Setia, 2000.
7. Abdul hamid
Ritonga, 16 tema pokok hadis seputar Islam dan tata kehidupan, Bandung :
Citapustaka Media perintis, 2010.
copyright google...
Komentar
Posting Komentar